Gang Dolly, Bukti Kelam Sejarah Masa Lalu.


Oleh: Rendy Riskia Ananda Pratama 
(Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Ampel Surabaya)


            Siapa yang tak asing dengan sebutan “Gang Dolly”? Nama tersebut seakan-akan mendunia di berbagai kalangan, terutama di Indonesia. Ya, Gang Dolly merupakan salah satu tempat prostisusi yang kini telah dibubarkan dan merupakan yang terbesar se-Asia Tenggara. Bahkan peminatnya bukan hanya masyarakat lokal saja, tetapi turis mancanegara pun demikian. Lalu bagaimana kabar prostisusi tersebut saat ini? Dalam tulisan ini akan kami kupas dengan lengkap dari awal berdirinya hingga lokalisasi ini dibubarkan.

Sejarah awal Gang dolly sebagai tempat prostisusi.
            Gang Dolly merupakan suatu daerah yang terletak di Kota Surabaya. Nama “Dolly” sendiri diambil dari sebuah nama panggilan seseorang bernama Dolly yang memiliki nama lengkap Advenso Dollyres Chavit. Ayahnya merupakan orang Filipina sedangkan ibunya adalah orang Jawa asli. Dolly merupakan seorang wanita yang tomboy. Saat berusia belasan tahun ia sudah mulai berani merokok. Namun meskipun demikian, ia memiliki paras yang cantik dan tubuh yang seksi.
            Beranjak dewasa, ia menikah dengan seorang pria dan dikarunia seorang anak laki-laki. Namun saat sang anak berusia 5 tahun, suami Dolly meninggal dunia. Dari situlah kehidupan Dolly mulai berantakan. Ia mengalami berbagai kesulitan ekonomi. Terutama untuk memenuhi keinginan anaknya yang meminta ini itu. Saat itu, jajanan es krim saja pun masih termasuk jajanan mahal. Dan segala kesulitan dan tekanan itulah yang membuat Dolly memulai untuk ‘menjual tubuhnya”.
            Tidak dipungkiri, wajah cantik dan tubuhnya yang seksi berhasil menarik perhatian banyak laki-laki kala itu. Bahkan rata-rata pelanggan Dolly adalah orang-orang berkelas yang memiliki banyak harta. Dolly pun mengakui bahwa dirinya adalah seorang pelacur kelas atas. Ia bahkan tidak ingin dibayar dengan uang, melainkan dengan barang-barang mewah dan bernilai tinggi.
            Setelah cukup lama menjadi pelacur, sekitar tahun 1960-an, ia pindah ke kawasan Kembang Kuning dan lalu bertemu Tante Beng, seorang mucikari tersohor kala itu. Oleh Tante Beng ia diasuh dan dirawat. Sekitar 8 tahun ia menjadi anak kesayangan Tante beng. Dan sekitar tahun 1969, Dolly memutuskan untuk pindah ke kawasan Kupang Gunung. Di sanalah ia membangun rumah di lahan bekas kuburan Cina. Rumah itu ia jadikan wisma yang lalu ia sewakan kepada orang untuk dijadikan tempat prostisusi. Dari satu wisam berkembang lah menjadi empat wisma. Dan semuanya ia sewakan. Dari situlah Dolly mengaku bahwa ia tidak pernah menjadi Germo (mucikari). Karena ia hanya sekedar menyewakan wisma miliknya dan tidak ikut mengelola. Namun dari wisma-wisma itulah tempat tersebut menjadi tempat prostisusi yang sangat terkenal bahkan berkembang selama sekitar setengah abad. Dan itulah mengapa kawasan itu disebut “Gang Dolly”. Dan semakin lama semakin berkembang hingga sampai sekitar 800 wisma yang tersedia.

Perkembangan prostisusi di Gang Dolly.
            Gang Dolly merupakan salah satu tempat prostitusi yang sudah sangat terkenal diberbagai manca negara. Tempat ini juga pernah disebut-sebut sebagai tempat prostitusi terbesar se-Asia Tenggara. Bagaimana tidak, jika dihitung setidaknya ada sekitar 8000-9000 Pekerja Seks Komersial (PSK) yang menaruh nasib di tempat tersebut.
            Semakin lama, perkembangan Dolly tentunya semakin pesat. Yang awalnya hanya ada sekitar empat wisma, semakin lama bertambah hingga sampai sekitar 800 wisma. Pelayanan yang ditawarkan pun berssmacam-macam. Ada yang menggunakan jasa pijat, karaoke, maupun “langsung main”. Adanya bermacam-macam pelayanan menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung maupun perantau yang juga ingin menjadi PSK disana.


            Jika berbicara tentang PSK, tempat prostitusi ini dibagi menjadi dua macam. Yaitu lokalisasi Dolly dan lokalisasi jarak. Lokalisasi Dolly menyediakan perempuan-perempuan yang lebih muda dan fresh namun tentunya tarif yang harus dibayar lebih mahal. Di lokalisasi Dolly ini juga terdapat sistem dimana setiap tahunnya PSK yang mangkal disana akan diganti dengan yang baru. Hal ini bertujuan untuk menambah lebih banyak lagi pengunjung dan meningkatkan pamor lokalisasi ini. Sedangkan di lokalisasi jarak tersedia wanita-wanita dengan tarif lebih murah. PSK di lokalisasi jarak ini juga merupakan perempuan yang lebih berumur. Beberapa dari mereka juga merupakan alumni dari lokalisasi Dolly. Tetapi meskipun demikian, lokalisasi jarak tidak kalah ramai dan terkenal dibanding lokalisasi Dolly. 
            Selain tersedianya berbagai macam atau berbagai tipe wanita, tempat ini juga menawarkan berbagai macam bentuk pelayanan. Ada yang berupa jasa pijat yang sudah dijelaskan sebelumnya, jasa pangku, karaoke, diskotik, dan lain sebagainya. Fasilitas yang diberikan pun juga sangat memuaskan. Terutama tempat yang sangat nyaman untuk melakukan hubungan intim. Belum lagi masyarakat sekitar yang sangat mendukung adanya lokalisasi. Dari banyak faktor inilah yang mengundang banyak pengunjung datang ke lokalisasi Dolly.
            Pengunjung yang datang pun bukan hanya sekedar penduduk lokal saja. Turis manca negara pun datang untuk menikmati tubuh wanita-wanita disana. bahkan banyak orang mengatakan bahwa Dolly sendiri jauh lebih terkenal dibanding Kota Surabaya. Turis-turis yang biasa berlibur ke Bali atau Bromo senang mampir ke Kota surabaya untuk mengunjungi lokalisasi Dolly ini.
            Bisa dibayangkan bagaimana besar untung yang didapat dari kegiatan haram ini. Jika dilihat, ada sekitar ratusan orang pengunjung yang datang tiap harinya. Hal ini juga menguntungkan warga sekitar. Karena dengan adanya lokalisasi ini, mereka bisa membuka usaha yang menghasilkan untung besar. seperti warung kopi, lahan parkir, dan sebagainya. Bahkan menurut beberapa informasi, tidak ada penolakan dari beberapa tokoh masyarakat seperti RT, RW, bahkan lurah akan adanya lokalisasi ini. Karena mereka menganggap dengan adanya lokalisasi, ekonomi masyarakat daerah tersebut menjadi meningkat.


            Lalu siapa orang paling berpengaruh dibalik semua hal di lokalisasi ini? Jawabannya adalah mucikari. Mucikari adalah orang yang meng-handle para PSK untuk disajikan kepada para laki-laki hidung belang. Mereka mencari bibit-bibit unggul yang masih berusia dini ke daerah-daerah pelosok di Jawa Timur untuk mereka bawa ke lokalisasi. Lalu mereka rawat dan mereka jadikan gadis kampung yang awalnya lugu menjadi ganas dan seksi. Mereka juga mengajarkan bagaimana cara melayani laki-laki.
            Selain itu, para mucikari juga memberikan pinjaman uang atau modal kepada para PSK dengan jumlah yang cukup besar dengan syarat apabila utang bisa dilunasi dengan cara dicicil dengan menjadi seorang PSK di lokalisasi. Setelah utang lunas, para mucikari akan memberikan pinjaman lagi, sehingga PSK-PSK tersebut selalu terjerat hutang dan tidak bisa keluar dari ikatan mucikari.
            Sebenarnya, tidak semua PSK merasa nyaman dan betah untuk terus menerus menjadi wanita panggilan. Tetapi kareana hasutan dan hutang yang menjerat membuat mereka tidak bisa lepas dari pekerjaan haram ini. Dan ini juga yang menjadi salah satu faktor mengapa lokalisasi ini bisa menjaga eksistensinya bahkan sampir hampir setengah abad.
            Orang berpengaruh kedua dibalik lokalisasi adalah preman. Seperti yang diketahui preman adalah penguasa tanpa suara. Maksudnya adalah mereka tidak dipilih rakyat, tidak juga memiliki visi-misi tetapi malah ditakuti. Begitupula di tempat-tempat lokalisasi seperti Dolly. Preman memiliki peran besar dalam proses prostitusi di lokalisasi ini. Karena dengan adanya preman, tidak bisa orang sembarang masuk ke lokalisasi. Bahkan aparat kepolisian maupun TNI jika berseragam pun dilarang masuk. Selain itu dengan adanya preman juga membuat masyarakat kawasan tersebut yang kotra dengan adanya lokalisasi ini tidak bisa bersuara dan bergerak banyak untuk menghentikan segala macam bentuk prostitusi. Termasuk tokoh agama maupun tokoh masyarakat. Jadi dengan adanya preman-preman inilah lokalisasi tetap berjalan.
            Namun dibalik penjelasan di atas tadi, yang tetap perlu diingat adalah alasan mengapa ribuan perempuan tersebut memilih untuk menjadi seorang pekerja seks komersial. Karena tidak dapat dipungkiri mayoritas dari mereka adalah orang-orang yang terhimpit masalah ekonomi. Bahkan 90% dari mereka berasal dari luar Kota Surabaya. Dan semakin tahun akan semakin banyak terutama setelah lebaran. Karena PSK lama akan mengajak orang-orang baru untuk bekerja di Dolly. Dengan hasil dan untung yang sangat menjajikan, tentunya sangat membuat banyak orang tertarik. Dan inilah yang menjadi persoalan utama.

Penutupan Gang Dolly.
            Setelah sekitar setengah abad kegiatan prostitusi di gang Dolly ini beroperasi, akhirnya pada tahun 2014, Ibu Risma selaku walikota Surabaya memerintah untuk menutup segala bentuk kegiatan prostitusi di kawasan gang Dolly.
            Kebijakan ini tentunya mengandung pro dan kontra. Tidak hanya dari para mucikari dan PSKnya, tetapi juga dari masyarakat sekitar. Secara luas, masyarakat Surabaya memang sangat setuju dengan penutupan lokalisasi Dolly ini. Tetapi tidak dengan masyarakat Dolly sendiri. Walaupun mereka tidak terlibat dalam kegiatan prostitusi, mereka merasa kehilangan pekerjaan yang selama ini mereka jalani. Seperti contohnya adalah usaha warung kopi. Dengan ditutupnya lokalisasi tentu akan berdampak terhadap penghasilan yang akan didapat dari warung kopi tersebut. Dan itu lah yang masyarakat takutkan.
            Mereka-mereka yang kontra pun juga sempat beberapa kali menggelar aksi demo. Hal ini dilakukan tentunya sebagai bentuk penolakan. Namun kendati demikian, lokalisasi tetap harus dihentikan.


            Untuk mengatasi keresahan ekonomi yang warga alami, pemkot Surabaya yang dibantu oleh beberapa organisasi sosial tidak hanya menutup paksa lokalisasi Dolly, tetapi mereka juga memberikan solusi yang tepat untuk mengembalikan kondisi ekonomi warga. Seperti mengubah wisma-wisma menjadi tempat produksi bordil, sepatu, dan lain sebagainya. Selain itu juga dilakukan beberapa penghijauan dan pengindahan lingkungan supaya orang-orang tetap ingin berkunjung walaupun tidak lagi untuk kegiatan prostitusi.


            Dibalik semua itu terdapat beberapa orang hebat yang sangat gigih dan ikut serta berperan besar membantu penutupan lokalisasi serta pembangkitan Ekonomi warganya. Bahkan mereka tidak hanya menutup lokalisasi di gang Dolly, tetapi di 47 tempat di Jawa Timur. Mereka adalah Dr. H. A Sunarto Asd, MEI (Doktor Prostitusi/IDEAL-MUI Jatim), KH. Drs. Khoirun Syuaib (Kiai Prostitusi/IDEAL-MUI Jatim), H. Sunarto Sholahuddin (Owner PT. Berkah Aneka Laut/Bendahara masjid Nurul Fatah), H. Gatot Subiantoro (Mantan preman Dolly/IDEAL-MUI).
            Mereka berempat adalah orang-orang hebat yang sangat sabar dalam berdakwah dalam upaya menghentikan kegiatan prostitusi. Dan penulis dengan sangat beruntung dapat bertemu langsung dengan keempat tokoh tersebut dalam Kuliah Lapangan di eks-lokalisasi Dolly tanggal 13 April 2019 lalu. Dan berikut adalah sedikit sepak terjal beliau dalam berdakwah menghentikan prostitusi.
  • Dr. H. A. Sunarto Asd, MEI (Doktor Prostitusi/IDEAL-MUI Jatim)

Dilahirkan di lingkungan prostitusi membuat beliau memiliki tekad untuk merubah lingkungannya menjadi bersih dari hal seperti itu. Beliau mulai berdakwah secara individu pada tahun 1980 tepat saat beliau baru saja keluar dari pesantren. Lalu pada tahun 2002 beliau membentuk sebuah lembaga guna mempermudah proses dakwah yang beliau tekuni. Lembaga tersebut adalah Forkemnas (Forum Komunikasi Elemen Masyarakat Surabaya). Dan pada tahun 2010 beliau ditunjuk sebagai ketua umum IDEAL MUI Jatim. Dan beliau juga pernah menulis disertasi dengan judul “Kiai Prostitusi” sehingga dari situlah gelar Doktor Prostitusi tersemat dalam diri beliau.
  • .      KH. Drs. Khoirun Syuaib (Kiai Prostitusi/ IDEAL-MUI Jatim)

Sama seperti Dr. Sunarto, KH Khoirun Syuaib juga dilahirkan di lingkungan prostitusi. Dan ini pula yang mendorong beliau untuk berdakwah. Beliau mulai berdakwah pada tahun 1980.
  • .      H. Sunarto Shalahuddin (Owner PT. Berkah Aneka Laut)

Sejak kecil terlahir dari keluarga yang kurang mampu dan hidup serba kekurangan. Namun itu beliau jadikan sebagai semangat untuk meraih kesuksesan. Sejak kecil beliau sudah mulai bekerja untuk menyambung hidup. Dan dari semua rintangan yang beliau alami, sekarang beliau sudah bisa menikmati hasilnya. Terbukti terdapat sekitar 50 buah kapal yang saat ini menjadi miliknya.
Walaupun beliau tidak berdakwah sperti dua tokoh yang saya sebutkan sebelumnya, tetapi beliau memiliki peran yang sangat besar dalam kesuksesan dakwah prostitusi ini. Karena dengan sumbangan finansial yang beliau berikah, dakwah bisa terealisasikan dengan baik.
  • .      H. Gatot Subiantoro (Mantan Preman/IDEAL-MUI Jatim)

Beliau memang mantan preman. Yang satu kampung dengan KH. Khoirun Syuaib. Tetapi karena perlakuan KH. Khoirun Syuaib yang selalu baik terhadap Pak Gatot ini, akhirnya Pak Gatot mendapat hidayah dan bertaubat ke jalan yang benar. Tidak sampai situ saja, setelah bertaubat Pak Gatot juga ikut andil dalam proses penutupan lokalisasi di 47 tempat di Jawa Timur.
           

Proses dakwah.
            Dalam proses dakwah, metode yang beliau-beliau gunakan adalah metode integratif, persuasif, dan solotip. Metode integratif maksudnya adalah menyeluruh. Lalu ada metode persuasif yang merupakan pendekatan manusiawi. Dan yang terakhir yaitu metode solotip, yaitu memberikan solusi.
            Seperti yang tadi sempat dijelaskan, bahwa penutupan lokalisasi bukan sekedar menghentikan prostitusi, tetapi juga membangkitkan ekonomi yang sebelumnya mati. Dari situ pendakwah memberikan solusi dengan mengubah wisma-wisma menjadi tempat produksi barang, dan mengubah suasana kampung lebih indah dan berwarna. Seperti yang dikatakan oleh Dr. Sunarto, “Dkwah itu merangkul, bukan mendengkul. Dakwah itu membina, bukan menghina”
            Adapun media dakwah yang digunakan adalah seperti media pengobatan alami, kelembagaan atau organisasi sosial, pembelajaran, dan lain sebagainya. Pada intinya semua bertujuan sama, yaitu membawa masyarakat kawasan lokalisasi kembali ke jalan yang benar.
            Namun disetiap proses berdakwah, terdapat beberapa kendala yang sempat beliau-beliau alami. Diantaranya adalah:
  • .Ancaman mental maupun fisik yang datang dari para preman dan mucikari.
  •   Sering mendapat rayuan dan godaan dari para PSK.
  •  Mendapat cibiran, bahkan difitnah oleh sebagian masyarakat yang kontra dengan penutupan lokalisasi.
  • Keterbatasan dana kala itu.

Namun dari beberapa kendala tersebut, semua bisa di lalui. Sehingga kini lokalisasi Dolly dan 46 lokalisasi di Jawa Timur telah resmi berhenti. Pak Gatot juga berpesan kepada setiap masyarakat khususnya kaum muda untuk bersama-sama ikut andil agar lokalisasi tidak kembali ada. Beliau berkata “Lokalisasi telah mati, jangan bangkit kembali”
Kesan.
  • .      Bertemu sosok-sosok inspiratif yang membuat saya benar-benar terpacu untuk bisa seperti mereka bahkan melebihi mereka.
  • .      Bisa mengerti dan melihat langsung lokalisasi Dolly yang sejak dulu hanya bisa saya lihat di koran maupun televisi.
  • .      Mendapat banyak motivasi dan cerita yang sangat tak terduga, terutama dari Pak Gatot sang mantan preman. Yang mana cerita-cerita itu bisa menjadi semangat dan motivasi saya untuk bisa berkontribusi dan bermanfaat bagi masyarakat.
  • .      Kebersamaan dengan teman satu angkatan. Karena jarang-jarang bisa kumpul lengkap dan seru-seruan.
  • .      Mendapat uang Rp. 300.000 dari Pak Sunarto karena saya  berhasil memberikan pertanyaan yang beliau beri nilai A.





Komentar